RuangInvest.com, Jakarta – Ramalan Purbaya soal kapan rupiah bangkit melawan dolar AS menjadi perhatian pelaku pasar dan masyarakat. Di tengah tekanan nilai tukar yang masih berlangsung, pemerintah menyampaikan optimisme bahwa mata uang Garuda akan kembali menunjukkan penguatan dalam beberapa bulan mendatang.
Pernyataan tersebut disampaikan Menteri Keuangan Purbaya Yudhi Sadewa saat rapat kerja bersama Komisi XI DPR RI. Menurutnya, pelemahan rupiah saat ini lebih banyak dipengaruhi faktor eksternal yang berasal dari kondisi ekonomi global.
Meski begitu, pemerintah meyakini tekanan terhadap rupiah tidak akan berlangsung selamanya. Berbagai kebijakan fiskal, moneter, dan sektor keuangan disebut telah disiapkan untuk memperkuat stabilitas pasar serta meningkatkan kepercayaan investor terhadap Indonesia.
Ramalan Purbaya soal Kapan Rupiah Bangkit Melawan Dolar AS
Dalam pemaparannya, Purbaya memperkirakan nilai tukar rupiah akan mulai menguat secara bertahap pada semester II tahun 2026. Dengan kata lain, periode Juli hingga Desember dipandang sebagai fase pemulihan setelah mata uang Indonesia mengalami tekanan cukup besar sepanjang paruh pertama tahun ini.
Menurut Purbaya, sejumlah faktor yang menekan rupiah berasal dari sentimen global, kondisi risk-off di pasar keuangan dunia, hingga tekanan pada transaksi berjalan dan transaksi finansial domestik. Faktor-faktor tersebut membuat investor cenderung mencari aset yang dianggap lebih aman, termasuk dolar AS.
Namun, pemerintah menilai kondisi tersebut dapat diredam melalui koordinasi yang lebih kuat antara kebijakan fiskal dan moneter. Selain itu, perbaikan tata kelola devisa hasil ekspor atau DHE juga diharapkan mampu memperbesar pasokan valuta asing di dalam negeri.
Faktor yang Diyakini Mendorong Penguatan Rupiah
Optimisme pemerintah bukan tanpa alasan. Purbaya menilai terdapat sejumlah faktor yang berpotensi mendukung penguatan rupiah pada semester kedua tahun ini.
Beberapa faktor tersebut antara lain:
- Meningkatnya koordinasi kebijakan fiskal, moneter, dan sektor keuangan.
- Perbaikan tata kelola devisa hasil ekspor.
- Pendalaman pasar keuangan domestik.
- Meningkatnya kepercayaan investor terhadap ekonomi Indonesia.
- Potensi meredanya ketegangan geopolitik global.
Selain itu, pemerintah juga melihat peluang membaiknya pertumbuhan ekonomi global apabila konflik geopolitik internasional mulai mereda. Kondisi tersebut dapat mengurangi tekanan terhadap pasar keuangan negara berkembang, termasuk Indonesia.
Cadangan Devisa Jadi Modal Penting
Salah satu faktor yang turut memperkuat optimisme pemerintah adalah posisi cadangan devisa Indonesia yang masih relatif kuat.
Hingga Mei 2026, cadangan devisa Indonesia tercatat mencapai sekitar 144,9 miliar dolar AS. Angka tersebut setara dengan sekitar 5,6 bulan impor dan berada jauh di atas standar kecukupan internasional. Kondisi ini memberikan ruang yang lebih besar bagi otoritas dalam menjaga stabilitas nilai tukar apabila terjadi gejolak pasar.
Proyeksi Rupiah pada 2027
Selain membahas kondisi tahun ini, pemerintah juga telah menyusun proyeksi nilai tukar rupiah untuk tahun 2027.
Dalam Kerangka Ekonomi Makro dan Pokok-Pokok Kebijakan Fiskal (KEM-PPKF) 2027, pemerintah memperkirakan rupiah bergerak pada kisaran Rp16.800 hingga Rp17.500 per dolar AS. Kisaran tersebut digunakan sebagai salah satu asumsi dasar dalam penyusunan RAPBN 2027.
Purbaya menegaskan bahwa stabilitas rupiah akan sangat bergantung pada kondisi global dan efektivitas kebijakan domestik. Karena itu, pemerintah terus berupaya menjaga keseimbangan ekonomi agar arus modal tetap masuk ke Indonesia.
Di sisi lain, pelaku pasar juga akan mencermati perkembangan inflasi, suku bunga global, serta arah kebijakan bank sentral Amerika Serikat yang selama ini menjadi faktor utama pergerakan mata uang dunia.
Dampak bagi Masyarakat dan Dunia Usaha
Penguatan rupiah tentu menjadi kabar baik bagi banyak sektor. Nilai tukar yang lebih stabil dapat membantu menekan biaya impor bahan baku, menjaga inflasi, serta meningkatkan kepastian usaha.
Bagi masyarakat, rupiah yang lebih kuat juga dapat membantu menjaga daya beli karena harga barang impor cenderung lebih terkendali. Sementara itu, dunia usaha memperoleh kepastian yang lebih baik dalam menyusun perencanaan bisnis dan investasi.
Meskipun demikian, para pelaku ekonomi tetap diminta mencermati perkembangan global. Sebab, pergerakan nilai tukar tidak hanya dipengaruhi faktor domestik, tetapi juga kondisi ekonomi dan geopolitik internasional yang dapat berubah sewaktu-waktu.
Ramalan Purbaya soal kapan rupiah bangkit melawan dolar AS menunjukkan keyakinan pemerintah bahwa masa sulit yang dialami mata uang Indonesia bersifat sementara. Dengan dukungan kebijakan yang terkoordinasi serta membaiknya sentimen global, rupiah diperkirakan mulai menguat secara bertahap pada semester II 2026 dan bergerak lebih stabil dalam beberapa tahun ke depan.





