Prospek Bank Syariah Dinilai Cerah, BRIS Jadi Pilihan Investor

Dwi Prakoso

RuangInvest.com, Jakarta – Prospek bank syariah kembali menjadi perhatian pelaku pasar di tengah tekanan yang masih membayangi industri pasar modal nasional. Saat sejumlah saham perbankan besar mengalami tekanan akibat aksi jual investor asing, sektor perbankan syariah justru dinilai memiliki ruang pertumbuhan yang menarik.

Arus dana asing yang terus keluar dari pasar saham domestik membuat sejumlah saham bank berkapitalisasi besar terkoreksi dalam beberapa waktu terakhir. Namun, kondisi tersebut tidak serta-merta mengurangi daya tarik seluruh sektor perbankan di Indonesia.

Di tengah tantangan tersebut, analis melihat prospek bank syariah masih tetap kuat. Berbagai sumber pertumbuhan baru dinilai mampu menjaga ekspansi bisnis dan meningkatkan kinerja keuangan industri dalam jangka menengah hingga panjang.

Prospek Bank Syariah Didukung Bisnis Emas

Analis sekaligus Co-Founder Pasar Dana, Hans Kwee, menilai bisnis emas menjadi salah satu motor utama yang menopang prospek bank syariah saat ini.

Menurutnya, produk tabungan emas dan cicil emas semakin diminati masyarakat. Kondisi tersebut sejalan dengan meningkatnya minat investor terhadap aset safe haven di tengah ketidakpastian ekonomi global dan fluktuasi pasar keuangan.

” Salah satu pendorong utama berasal dari bisnis emas. Produk tabungan emas dan cicil emas kini menjadi salah satu layanan yang paling diminati masyarakat,” ujar Hans Kwee dalam keterangan resminya, Jumat (30/5/2026).

Selain memberikan alternatif investasi bagi masyarakat, bisnis emas juga membuka peluang peningkatan pendapatan berbasis komisi atau fee based income bagi perbankan syariah.

Di sisi lain, tren harga emas yang cenderung kuat dalam beberapa tahun terakhir turut mendorong minat masyarakat untuk memanfaatkan layanan investasi berbasis emas yang ditawarkan bank syariah.

Segmen Korporasi dan Haji Jadi Mesin Pertumbuhan Baru

Tidak hanya mengandalkan bisnis ritel, bank syariah kini mulai memperluas fokus bisnis ke sektor wholesale dan korporasi.

Jika sebelumnya pembiayaan lebih banyak diarahkan ke segmen konsumsi, kini bank syariah semakin agresif masuk ke pembiayaan proyek infrastruktur, ekosistem BUMN, hingga berbagai sektor produktif lainnya.

Langkah tersebut dinilai mampu memperluas portofolio pembiayaan sekaligus meningkatkan kualitas aset. Karena itu, potensi pertumbuhan industri menjadi lebih beragam dan tidak hanya bergantung pada satu segmen pasar.

Digitalisasi Haji Menarik Nasabah Muda

Hans juga menyoroti perkembangan ekosistem haji dan umrah sebagai pendorong penting pertumbuhan industri.

Digitalisasi tabungan haji yang menyasar generasi milenial dan Gen Z mulai menunjukkan hasil positif. Hingga saat ini, lebih dari 1,2 juta nasabah muda tercatat telah memulai tabungan haji sejak dini.

Kondisi tersebut memberikan manfaat besar bagi industri karena menciptakan sumber dana murah atau current account saving account (CASA) yang relatif stabil.

Beberapa faktor yang mendukung pertumbuhan ekosistem haji antara lain:

  • Meningkatnya kesadaran generasi muda untuk merencanakan ibadah haji.
  • Kemudahan pembukaan tabungan melalui layanan digital.
  • Edukasi keuangan syariah yang semakin luas.
  • Integrasi layanan haji dan umrah dalam ekosistem perbankan syariah.

Selain itu, dana murah yang terus bertambah membantu bank syariah menjaga efisiensi biaya dana dan meningkatkan profitabilitas.

Kinerja Industri Perbankan Syariah Masih Solid

Prospek bank syariah yang positif juga tercermin dari kinerja industri pada triwulan I-2026.

Berdasarkan data Otoritas Jasa Keuangan (OJK), pangsa pasar perbankan syariah hingga Maret 2026 mencapai sekitar 7,51 persen. Angka tersebut meningkat dibandingkan beberapa tahun sebelumnya yang masih berada di kisaran 7 persen.

Menurut Hans, kenaikan market share tersebut menunjukkan semakin tingginya penerimaan masyarakat terhadap produk dan layanan keuangan berbasis syariah.

Sementara itu, pertumbuhan pembiayaan bank syariah tercatat mencapai 9,82 persen secara tahunan atau year on year (YoY). Angka tersebut lebih tinggi dibandingkan pertumbuhan kredit perbankan konvensional yang cenderung lebih moderat.

Di sisi pendanaan, pertumbuhan dana pihak ketiga atau DPK juga tetap terjaga. Hal ini menunjukkan tingkat kepercayaan masyarakat terhadap industri perbankan syariah masih kuat.

Meskipun likuiditas industri perbankan nasional menghadapi tantangan, bank syariah mampu mempertahankan momentum pertumbuhan dengan baik.

Saham BRIS Dinilai Menarik untuk Jangka Panjang

Salah satu emiten yang menjadi sorotan adalah PT Bank Syariah Indonesia Tbk (BRIS) atau BSI.

Pada triwulan I-2026, BSI berhasil mencatat pertumbuhan DPK sebesar 17,99 persen. Kinerja tersebut didukung meningkatnya loyalitas nasabah dan semakin tingginya kesadaran masyarakat terhadap layanan keuangan syariah.

Selain itu, laba bersih perusahaan tumbuh 17,1 persen dibandingkan periode yang sama tahun sebelumnya.

Pertumbuhan tersebut salah satunya ditopang oleh lonjakan fee based income dari bisnis emas yang terus berkembang. Tren ini dinilai memberikan peluang besar bagi BSI untuk memperluas basis nasabah sekaligus meningkatkan pendapatan nonpembiayaan.

Hans menilai saham BRIS masih memiliki potensi kenaikan dengan target harga berada di kisaran Rp3.100 hingga Rp3.300 per saham.

Menurutnya, karakter saham BRIS yang relatif defensif membuat pergerakannya cenderung lebih stabil dibandingkan sejumlah saham perbankan lainnya. Karena itu, strategi akumulasi beli dinilai layak dipertimbangkan oleh investor yang memiliki orientasi investasi jangka menengah hingga panjang.

Dengan dukungan bisnis emas, ekspansi korporasi, serta pertumbuhan ekosistem haji dan umrah, prospek bank syariah diperkirakan tetap positif meskipun pasar modal nasional masih menghadapi berbagai tekanan eksternal. Industri ini dinilai memiliki fondasi pertumbuhan yang kuat untuk terus berkembang pada tahun-tahun mendatang.

Penulis :

Dwi Prakoso

TOPIK :

Home Trending Explore Discover Menu