RuangInvest.com, Jakarta – SGER targetkan pendapatan Rp10 triliun pada 2026 seiring ekspansi pasar ekspor dan pengembangan bisnis baru yang terus dilakukan perseroan. Optimisme tersebut didukung oleh kontrak kerja sama yang telah terjalin dengan sejumlah mitra di Vietnam dan Bangladesh.
Perseroan menilai permintaan energi dan komoditas pendukung industri di kawasan Asia masih memiliki prospek yang menjanjikan. Karena itu, perusahaan terus memperkuat strategi bisnis untuk meningkatkan volume penjualan dalam beberapa tahun mendatang.
Selain memperluas pasar ekspor, PT Sumber Global Energy Tbk juga mengembangkan sumber pendapatan baru di luar bisnis batu bara. Langkah ini dilakukan untuk memperkuat fundamental usaha sekaligus menjaga pertumbuhan berkelanjutan di tengah dinamika pasar global.
SGER Targetkan Pendapatan Rp10 Triliun pada 2026
PT Sumber Global Energy Tbk (SGER) membidik target pendapatan sebesar Rp10 triliun pada tahun 2026. Perseroan juga memproyeksikan laba bersih dapat mencapai Rp500 miliar pada periode yang sama.
Direktur SGER, Raymond Ng Chi Ching, mengatakan target tersebut didukung oleh kerja sama yang telah terjalin dengan sejumlah pelanggan di Vietnam dan Bangladesh. Kedua negara tersebut dinilai memiliki potensi pasar yang besar bagi produk yang dipasarkan perseroan.
Menurut Raymond, perusahaan terus melakukan berbagai persiapan untuk memastikan target bisnis dapat tercapai. Upaya tersebut mencakup penguatan rantai pasok hingga perluasan jaringan pelanggan potensial.
“Pihak perusahaan telah melakukan berbagai langkah persiapan, mulai dari penjajakan pasar, penguatan jaringan pemasok, hingga pengembangan hubungan dengan calon pelanggan potensial,” ujar Raymond dalam Laporan Hasil Public Expose yang disampaikan melalui keterbukaan informasi Bursa Efek Indonesia, Rabu (3/6/2026).
Selain itu, perusahaan juga terus memantau perkembangan pasar internasional untuk mengidentifikasi peluang bisnis baru. Langkah ini diharapkan mampu mendukung pertumbuhan pendapatan secara berkelanjutan.
Diversifikasi Bisnis ke Manganese Ore dan Petroleum Coke
Untuk memperluas sumber pendapatan, SGER tidak hanya mengandalkan bisnis batu bara. Perseroan kini mulai mengembangkan usaha di sektor komoditas non batu bara.
Beberapa komoditas yang menjadi fokus pengembangan adalah Manganese Ore dan Petroleum Coke. Kedua produk tersebut dinilai memiliki prospek permintaan yang cukup baik dari berbagai sektor industri.
Diversifikasi usaha ini menjadi bagian dari strategi perusahaan dalam mengurangi ketergantungan terhadap satu jenis komoditas. Dengan portofolio bisnis yang lebih beragam, perusahaan berharap dapat menjaga stabilitas pendapatan.
Strategi Perluasan Pasar
Dalam menjalankan diversifikasi bisnis, perseroan telah menyiapkan sejumlah langkah strategis, antara lain:
- Menjalin komunikasi dengan calon pelanggan baru.
- Memperkuat jaringan pemasok komoditas.
- Melakukan penjajakan pasar di berbagai negara.
- Mengembangkan peluang ekspor untuk komoditas non batu bara.
- Meningkatkan efisiensi operasional dan distribusi.
Melalui strategi tersebut, perusahaan berharap dapat menciptakan sumber pertumbuhan baru yang mampu mendukung kinerja jangka panjang.
Pabrik Hidrogen Peroksida Hampir Rampung
Selain ekspansi komoditas, SGER juga bersiap mengoperasikan pabrik milik PT Hidrogen Peroxida Indonesia. Proyek ini menjadi salah satu langkah penting dalam pengembangan bisnis perusahaan.
Manajemen mengungkapkan bahwa progres pembangunan pabrik telah mencapai sekitar 97 persen. Saat ini, perusahaan tengah menyelesaikan tahap akhir sebelum fasilitas tersebut mulai beroperasi secara komersial.
Perseroan menargetkan pabrik tersebut dapat beroperasi pada kuartal III tahun 2026. Kehadiran fasilitas baru itu diharapkan dapat memberikan kontribusi tambahan terhadap pendapatan perusahaan di masa mendatang.
Sementara itu, pengoperasian pabrik juga berpotensi memperluas lini usaha perusahaan di sektor bahan kimia industri. Dengan demikian, sumber pendapatan perusahaan akan semakin beragam.
Belanja Modal Masih Dalam Pembahasan
Meski memiliki sejumlah proyek pengembangan usaha, manajemen belum menetapkan besaran belanja modal atau capital expenditure (capex) untuk tahun 2026.
Menurut Raymond, kebutuhan investasi untuk mendukung berbagai proyek yang sedang dikembangkan masih dalam tahap pembahasan internal. Karena itu, perusahaan belum mengumumkan angka pasti terkait alokasi capex tahun depan.
Namun demikian, perusahaan memastikan bahwa seluruh rencana investasi akan disesuaikan dengan kebutuhan bisnis dan kondisi pasar. Langkah tersebut dilakukan agar pengembangan usaha tetap berjalan secara optimal tanpa mengganggu kesehatan keuangan perusahaan.
Dengan kontrak ekspor yang telah berjalan, diversifikasi ke komoditas baru, serta hampir rampungnya pembangunan pabrik hidrogen peroksida, SGER targetkan pendapatan Rp10 triliun pada 2026 dengan optimisme yang cukup tinggi. Strategi ekspansi dan penguatan portofolio bisnis menjadi faktor utama yang diharapkan mampu mendorong pertumbuhan kinerja perusahaan dalam beberapa tahun ke depan.





