RuangInvest.com, Jakarta – RUPSLB BELI ditunda setelah PT Global Digital Niaga Tbk (BELI) atau Blibli mengumumkan perubahan jadwal pelaksanaan Rapat Umum Pemegang Saham Luar Biasa (RUPSLB) yang sebelumnya direncanakan berlangsung pada Kamis, 4 Juni 2026.
Perubahan jadwal tersebut diumumkan perseroan melalui keterbukaan informasi di Bursa Efek Indonesia (BEI) pada Rabu, 3 Juni 2026. Dalam pengumuman itu, perusahaan menetapkan tanggal baru pelaksanaan rapat menjadi Senin, 15 Juni 2026.
RUPSLB nantinya akan digelar di Wisma Barito Pacific II, Jalan Letjen S Parman Kav. 60, Slipi, Jakarta Barat. Agenda rapat tetap berfokus pada sejumlah rencana korporasi yang dinilai penting bagi pengembangan bisnis dan struktur permodalan perusahaan ke depan.
RUPSLB BELI Ditunda Hingga Pertengahan Juni
Keputusan RUPSLB BELI ditunda menjadi perhatian pelaku pasar karena rapat tersebut memuat agenda strategis terkait penerbitan saham baru. Meskipun jadwal berubah, perseroan belum menginformasikan adanya perubahan terhadap materi yang akan dibahas dalam rapat.
Salah satu agenda utama adalah permohonan persetujuan pemegang saham atas Program Management and Employee Stock Option Program (MESOP). Program ini bertujuan memberikan insentif kepada manajemen dan karyawan melalui kepemilikan saham perusahaan.
Selain itu, perseroan juga akan meminta persetujuan terkait Penambahan Modal Tanpa Hak Memesan Efek Terlebih Dahulu (PMTHMETD) atau yang dikenal sebagai private placement. Skema ini memungkinkan perusahaan menerbitkan saham baru kepada investor tertentu tanpa memberikan hak memesan efek terlebih dahulu kepada pemegang saham eksisting.
Namun demikian, hingga saat ini tidak ada penjelasan lebih lanjut mengenai alasan perubahan jadwal rapat tersebut. Perseroan hanya menyampaikan penyesuaian tanggal pelaksanaan melalui keterbukaan informasi resmi.
Blibli Siapkan Penerbitan Hingga 9,5 Miliar Saham Baru
Dalam dokumen yang telah disampaikan kepada publik, BELI berencana menerbitkan hingga 9,5 miliar saham baru. Jumlah tersebut setara dengan sekitar 6,92 persen dari modal ditempatkan dan disetor penuh perusahaan saat ini.
Rencana penerbitan saham baru tersebut terdiri atas dua skema utama, yaitu:
- Maksimal 4,5 miliar saham melalui program MESOP.
- Hingga 5 miliar saham melalui skema PMTHMETD atau private placement.
Porsi saham dari program MESOP mencapai sekitar 3,28 persen dari modal ditempatkan dan disetor. Sementara itu, saham yang diterbitkan melalui private placement setara sekitar 3,64 persen dari modal yang ada saat ini.
Langkah tersebut merupakan bagian dari strategi perusahaan untuk memperkuat struktur permodalan sekaligus mendukung berbagai kebutuhan bisnis di masa mendatang. Selain itu, program MESOP juga diharapkan dapat meningkatkan keterlibatan serta loyalitas karyawan terhadap kinerja perusahaan.
Rincian Program MESOP BELI
Perseroan juga mengungkapkan masih terdapat sisa saham dari program MESOP sebelumnya yang belum direalisasikan.
Jumlah saham yang masih tersisa mencapai sekitar 1,93 miliar saham atau setara 1,41 persen dari modal disetor perusahaan. Sisa saham tersebut akan diperhitungkan bersama rencana penerbitan saham baru yang akan dimintakan persetujuan dalam RUPSLB mendatang.
Keberadaan sisa program MESOP ini menunjukkan bahwa perusahaan masih memiliki ruang untuk melanjutkan pemberian insentif berbasis saham kepada karyawan dan manajemen sesuai kebutuhan perusahaan.
Porsi Penerbitan Saham Tetap Sesuai Regulasi
Meskipun jumlah saham yang akan diterbitkan tergolong besar, perseroan memastikan bahwa keseluruhan rencana tersebut masih berada dalam koridor regulasi yang berlaku.
Jika digabungkan dengan sisa saham MESOP yang belum dieksekusi, total porsi penerbitan saham baru tetap berada di bawah batas maksimum 10 persen dari modal disetor. Ketentuan tersebut sesuai dengan regulasi pasar modal yang mengatur penerbitan saham tanpa hak memesan efek terlebih dahulu.
Karena itu, langkah yang akan diajukan dalam RUPSLB tidak melampaui batas yang diperkenankan oleh regulator. Hal ini menjadi faktor penting untuk menjaga kepatuhan perusahaan terhadap aturan yang berlaku di pasar modal Indonesia.
Di sisi lain, investor juga akan mencermati potensi dampak penerbitan saham baru terhadap struktur kepemilikan dan tingkat dilusi saham yang beredar. Meskipun begitu, tambahan modal yang diperoleh dari aksi korporasi semacam ini sering kali digunakan untuk mendukung ekspansi usaha, investasi teknologi, maupun penguatan posisi keuangan perusahaan.
Sementara itu, pelaksanaan RUPSLB pada 15 Juni 2026 akan menjadi momen penting bagi pemegang saham untuk menentukan arah kebijakan korporasi BELI ke depan. Persetujuan atau penolakan terhadap agenda MESOP dan PMTHMETD akan memengaruhi strategi perusahaan dalam mengelola pertumbuhan bisnis serta kebutuhan pendanaan jangka panjang.
Dengan penjadwalan ulang tersebut, para pemegang saham kini memiliki waktu tambahan untuk mempelajari materi rapat sebelum memberikan keputusan pada RUPSLB yang akan digelar pertengahan bulan ini.





