IHSG Tertekan ke 5.900, Investor Asing Soroti Trust Issue Pemerintah

Dwi Prakoso

RuangInvest.com, Jakarta – IHSG tertekan ke 5.900 menjadi sorotan utama pelaku pasar dalam beberapa waktu terakhir. Pelemahan pasar saham terjadi bersamaan dengan melemahnya nilai tukar rupiah yang mendekati level Rp18.000 per dolar Amerika Serikat.

Kondisi tersebut memunculkan kekhawatiran di kalangan investor. Meski begitu, sejumlah analis menilai tekanan yang terjadi bukan disebabkan oleh melemahnya fundamental ekonomi nasional.

Sebaliknya, faktor utama yang dinilai memicu tekanan pasar adalah menurunnya kepercayaan investor asing terhadap arah dan konsistensi kebijakan pemerintah. Sentimen ini mendorong aksi jual yang terus berlanjut di pasar saham Indonesia.

IHSG Tertekan ke 5.900 Dipicu Menurunnya Kepercayaan Investor

Praktisi pasar modal sekaligus Co-Founder PasarDana, Hans Kwee, menilai pelemahan IHSG yang terjadi belakangan lebih banyak dipengaruhi persoalan kepercayaan atau trust issue dibanding faktor ekonomi makro.

Menurutnya, investor asing masih terus melakukan aksi jual di Bursa Efek Indonesia. Arus keluar dana asing tersebut memberikan tekanan besar terhadap sejumlah saham unggulan yang selama ini menjadi favorit investor global.

Salah satu yang terdampak adalah saham PT Bank Central Asia Tbk (BBCA). Saham perbankan berkapitalisasi besar tersebut terus mengalami tekanan jual sehingga nilai pasarnya mengalami penurunan signifikan dibandingkan periode sebelumnya.

Hans menjelaskan bahwa investor asing saat ini menilai adanya ketidakpastian dalam arah kebijakan pemerintah. Kondisi tersebut membuat mereka memilih mengurangi eksposur investasi di Indonesia.

“Masalah utama bukan fundamental ekonomi, melainkan trust issue dari investor asing terhadap pemerintah,” ujar Hans dalam keterangannya.

Perbedaan Pernyataan Pejabat Dinilai Membingungkan Pasar

Hans mencontohkan adanya sejumlah pernyataan yang berbeda antarpejabat terkait kebijakan ekonomi dan sektor strategis.

Misalnya, terdapat wacana kenaikan royalti sektor pertambangan yang sempat disampaikan oleh salah satu pejabat. Namun, pernyataan tersebut kemudian direspons berbeda oleh pejabat lain yang menyebut kebijakan tersebut ditunda.

Menurutnya, kondisi seperti itu menciptakan ketidakpastian bagi pelaku pasar. Investor membutuhkan arah kebijakan yang jelas dan konsisten agar dapat mengambil keputusan investasi dengan lebih percaya diri.

Selain itu, pasar keuangan sangat sensitif terhadap perubahan kebijakan. Karena itu, komunikasi yang tidak seragam dapat berdampak langsung terhadap sentimen investor.

Fundamental Ekonomi Indonesia Dinilai Masih Kuat

Di tengah tekanan pasar, Hans menilai kondisi ekonomi Indonesia sebenarnya masih berada dalam jalur yang positif.

Pertumbuhan ekonomi pada kuartal pertama 2026 tercatat mencapai 5,61 persen. Angka tersebut menunjukkan aktivitas ekonomi domestik masih tumbuh di tengah tantangan global.

Sementara itu, tingkat inflasi tetap terkendali sesuai target Bank Indonesia. Stabilitas harga yang terjaga menjadi salah satu indikator penting kekuatan ekonomi nasional.

Dari sisi fiskal, pemerintah juga menunjukkan perbaikan. Defisit anggaran pada April 2026 tercatat menyempit dibandingkan periode sebelumnya.

Karena itu, Hans menilai pelemahan pasar saham saat ini lebih banyak dipengaruhi faktor sentimen dibandingkan penurunan kualitas ekonomi domestik.

Ia juga menilai valuasi saham Indonesia saat ini relatif menarik. Berdasarkan rasio forward price to earnings (P/E), banyak saham diperdagangkan pada harga yang lebih murah dibandingkan rata-rata historisnya.

Kondisi tersebut membuka peluang bagi investor yang memiliki perspektif investasi jangka panjang.

Rupiah Melemah dan Risiko Baru yang Dicermati Investor

Selain IHSG tertekan ke 5.900, pasar juga mencermati pergerakan nilai tukar rupiah yang mendekati Rp18.000 per dolar AS.

Meski sering dianggap negatif, Hans menilai pelemahan rupiah tidak selalu merugikan. Indonesia masih merupakan eksportir berbagai komoditas utama yang berpotensi memperoleh manfaat dari penguatan dolar AS.

Namun demikian, sejumlah risiko tetap menjadi perhatian investor.

Salah satunya adalah potensi perubahan outlook surat utang Indonesia oleh lembaga pemeringkat Standard & Poor’s (S&P). Pasar menunggu keputusan terbaru setelah sebelumnya lembaga pemeringkat lain mulai memberikan perhatian terhadap kondisi fiskal Indonesia.

Investor juga mencermati berbagai isu terkait APBN. Beberapa di antaranya adalah risiko pelebaran defisit, kebijakan yang dianggap sulit diprediksi, serta tingginya rasio pembayaran utang terhadap pendapatan negara.

Di sisi lain, implementasi kebijakan ekspor satu pintu melalui PT Danantara Sumberdaya Indonesia (DSI) juga mulai menjadi perhatian pasar. Namun, kebijakan tersebut masih berada dalam tahap administrasi sehingga dampaknya terhadap perekonomian belum terlihat signifikan.

Tantangan Global Masih Membayangi Pasar Keuangan

Selain faktor domestik, tekanan terhadap pasar keuangan Indonesia juga berasal dari kondisi global yang belum stabil.

Perang di Timur Tengah yang masih berlangsung membuat harga minyak dunia bertahan di level tinggi. Situasi tersebut meningkatkan risiko inflasi di berbagai negara.

Sementara itu, sejumlah bank sentral global mulai menerapkan kebijakan moneter yang lebih ketat. Langkah tersebut dilakukan untuk mengendalikan tekanan inflasi yang kembali meningkat.

Akibatnya, investor global cenderung mengalihkan dana ke negara maju yang menawarkan tingkat imbal hasil lebih menarik.

Kondisi ini membuat pasar negara berkembang, termasuk Indonesia, menghadapi tekanan arus modal keluar dalam jangka pendek.

Meskipun begitu, banyak pelaku pasar masih optimistis terhadap prospek ekonomi Indonesia. Fundamental yang relatif kuat dan valuasi saham yang menarik dinilai dapat menjadi faktor pendukung pemulihan pasar ketika sentimen investor mulai membaik.

Penulis :

Dwi Prakoso

TOPIK :

Home Trending Explore Discover Menu