RuangInvest.com, Jakarta – Harga emas dunia menutup perdagangan pekan lalu dengan penguatan dan berpeluang melanjutkan tren kenaikan pada pekan ini. Sentimen positif datang dari pelemahan dolar Amerika Serikat serta meningkatnya optimisme investor terhadap prospek logam mulia.
Kenaikan harga emas terjadi setelah pasar merespons perkembangan geopolitik yang lebih kondusif. Harapan perpanjangan gencatan senjata antara Amerika Serikat dan Iran membantu memperbaiki sentimen investor global.
Selain itu, perhatian pasar kini mulai beralih ke sejumlah data ekonomi penting Amerika Serikat yang akan dirilis sepanjang pekan ini. Data tersebut berpotensi memengaruhi arah kebijakan suku bunga Federal Reserve atau The Fed dan menjadi katalis utama pergerakan harga emas.
Harga Emas Dunia Menguat di Akhir Pekan
Harga emas spot tercatat naik 0,99 persen menjadi USD4.540,53 per troy ons pada perdagangan Jumat (29/5/2026). Penguatan tersebut sekaligus menutup pekan dengan kinerja positif bagi logam mulia.
Secara mingguan, harga emas dunia menguat sekitar 0,68 persen. Kenaikan itu terjadi setelah emas berhasil bangkit dari posisi terendah dua bulan di level USD4.365,76 per troy ons yang sempat tercapai sehari sebelumnya.
Pemulihan harga emas menunjukkan bahwa minat investor terhadap aset safe haven masih cukup kuat. Meskipun pasar sempat beralih ke aset berisiko, emas mampu kembali menarik perhatian pelaku pasar.
Managing Director Bannockburn Global Forex, Marc Chandler, mengatakan harga emas pulih bersamaan dengan aset berisiko lainnya. Menurutnya, harapan adanya perpanjangan gencatan senjata di Timur Tengah menjadi salah satu faktor utama yang mendukung penguatan tersebut.
Sentimen Geopolitik dan Inflasi Jadi Faktor Utama
Pergerakan harga emas saat ini dipengaruhi oleh kombinasi berbagai faktor global. Di satu sisi, meredanya ketegangan geopolitik mengurangi permintaan terhadap aset lindung nilai.
Namun, di sisi lain, tekanan inflasi yang masih tinggi tetap memberikan dukungan bagi harga emas. Kondisi ini membuat pasar berada dalam fase penyeimbangan antara dua sentimen yang berbeda.
Chief Investment Officer Zaye Capital Markets, Naeem Aslam, menilai posisi emas masih cukup kuat. Meski begitu, logam mulia tetap sensitif terhadap perubahan sentimen pasar yang terjadi secara cepat.
Investor Menunggu Kepastian Arah Pasar
Pelaku pasar saat ini lebih berhati-hati dalam mengambil posisi. Mereka menunggu data ekonomi terbaru untuk memperoleh gambaran yang lebih jelas mengenai kondisi ekonomi Amerika Serikat.
Karena itu, volatilitas harga emas diperkirakan masih akan terjadi dalam beberapa hari ke depan. Investor cenderung menyesuaikan strategi berdasarkan hasil data yang akan diumumkan.
Mayoritas Analis Prediksi Harga Emas Dunia Naik
Optimisme terhadap harga emas dunia juga terlihat dalam survei mingguan Kitco News. Mayoritas analis Wall Street memperkirakan tren penguatan masih akan berlanjut.
Dari 12 analis yang berpartisipasi, sebanyak sembilan orang atau 75 persen memperkirakan harga emas akan naik dalam sepekan mendatang. Sementara itu, dua analis atau 17 persen memprediksi penurunan harga.
Hanya satu analis atau sekitar 8 persen yang memperkirakan harga emas bergerak dalam fase konsolidasi. Hasil survei tersebut menunjukkan kepercayaan yang cukup tinggi terhadap prospek emas dalam jangka pendek.
Meskipun begitu, sentimen investor ritel terlihat mulai melemah. Dari 39 responden yang mengikuti jajak pendapat daring Kitco, sebanyak 44 persen memperkirakan harga emas naik pekan ini.
Sebanyak 26 persen responden memprediksi penurunan harga. Sementara itu, 31 persen lainnya memperkirakan harga bergerak mendatar tanpa arah yang jelas.
Data Ekonomi AS Jadi Penentu Arah Emas Pekan Ini
Fokus utama pasar saat ini tertuju pada kondisi ekonomi dan pasar tenaga kerja Amerika Serikat. Sejumlah data penting yang dirilis sepanjang pekan berpotensi memengaruhi ekspektasi suku bunga The Fed.
Senior Market Strategist StoneX, Bob Haberkorn, mengatakan tren jangka menengah emas masih positif. Menurutnya, pasar akan memperoleh petunjuk yang lebih jelas setelah data ekonomi terbaru dipublikasikan.
Beberapa agenda ekonomi yang menjadi perhatian investor antara lain:
- Senin: Data ISM Manufacturing PMI.
- Selasa: Laporan JOLTs Job Openings.
- Rabu: Data ADP Employment dan ISM Services PMI.
- Kamis: Klaim pengangguran mingguan.
- Jumat: Data Non-Farm Payrolls (NFP).
Data Non-Farm Payrolls menjadi sorotan utama karena mencakup pertumbuhan lapangan kerja, tingkat pengangguran, dan pertumbuhan upah. Ketiga indikator tersebut sangat diperhatikan oleh Federal Reserve dalam menentukan arah kebijakan moneter.
Jika data tenaga kerja menunjukkan perlambatan ekonomi, peluang penurunan suku bunga dapat meningkat. Kondisi tersebut berpotensi memberikan dukungan tambahan bagi harga emas dunia.
Sebaliknya, apabila data ekonomi menunjukkan hasil yang lebih kuat dari perkiraan, tekanan terhadap emas bisa kembali muncul. Karena itu, pelaku pasar akan mencermati setiap rilis data dengan sangat seksama sepanjang pekan ini.
Dengan kombinasi pelemahan dolar AS, optimisme analis, dan fokus pada data ekonomi Amerika Serikat, harga emas dunia masih memiliki peluang untuk melanjutkan tren penguatan dalam jangka pendek. Namun, arah pergerakan selanjutnya tetap akan sangat bergantung pada perkembangan ekonomi global dan keputusan kebijakan moneter yang akan datang.





