RuangInvest.com, Jakarta – PT Bali Towerindo Sentra Tbk (BALI) kembali menunjukkan komitmennya dalam mendukung pertumbuhan bisnis anak usaha. Perseroan tercatat menyalurkan fasilitas pinjaman senilai Rp100 miliar kepada PT Paramitra Intimega (PIM) pada 2 Juni 2026.
Langkah BALI salurkan pinjaman Rp100 miliar ini dilakukan untuk memperkuat kebutuhan operasional dan pengembangan usaha PIM. Anak usaha tersebut merupakan entitas yang dimiliki BALI sebesar 99,9 persen.
Pemberian pinjaman ini menjadi bagian dari strategi perusahaan dalam menjaga momentum pertumbuhan bisnis. Selain itu, dukungan pendanaan internal dinilai mampu memperkuat sinergi usaha di lingkungan grup.
BALI Salurkan Pinjaman Rp100 Miliar untuk Pengembangan Usaha
Manajemen perseroan menjelaskan bahwa dana pinjaman akan digunakan untuk memenuhi kebutuhan modal kerja dan belanja modal atau capital expenditure (capex). Dana tersebut diharapkan dapat mempercepat pengembangan berbagai proyek yang sedang dijalankan oleh PIM.
Wakil Direktur Utama BALI, Lily Hidayat, menyampaikan bahwa fasilitas pinjaman tersebut akan memberikan dampak positif bagi operasional anak usaha. Menurutnya, penguatan struktur pendanaan menjadi faktor penting dalam menjaga keberlangsungan bisnis jangka panjang.
“Pinjaman akan digunakan untuk modal kerja dan/atau capex anak usaha,” ujar Lily dalam keterbukaan informasi yang disampaikan pada Rabu (3/6/2026).
Selain mendukung ekspansi usaha, langkah ini juga diharapkan meningkatkan efisiensi operasional perusahaan. Karena itu, manajemen optimistis kinerja grup dapat terus tumbuh di tengah dinamika industri telekomunikasi.
Dukungan Pendanaan Berlanjut Sejak Tahun Lalu
Pemberian pinjaman terbaru ini bukan yang pertama dilakukan oleh BALI kepada PIM. Sebelumnya, pada Oktober 2025, perusahaan juga telah mengucurkan dana dengan nilai yang sama, yakni Rp100 miliar.
Dalam transaksi sebelumnya, PIM menyerahkan aset tetap sebagai jaminan kredit. Sementara itu, BALI turut memberikan dukungan tambahan melalui pengagunan proyek Very Small Aperture Terminal (VSAT) milik PIM.
Proyek VSAT Jadi Agunan Bernilai Strategis
Proyek VSAT yang dijadikan agunan memiliki nilai mencapai Rp320 miliar. Nilai tersebut menunjukkan besarnya potensi bisnis yang dimiliki PIM dalam mendukung layanan infrastruktur telekomunikasi.
Keberadaan proyek VSAT juga menjadi salah satu aset strategis yang dapat menopang pertumbuhan usaha di masa mendatang. Oleh sebab itu, perusahaan terus menjaga keberlanjutan investasi pada sektor tersebut.
Di sisi lain, penggunaan aset produktif sebagai agunan mencerminkan keyakinan manajemen terhadap prospek bisnis yang sedang dikembangkan. Langkah ini sekaligus memberikan kepastian tambahan bagi aspek pendanaan perusahaan.
Strategi Pendanaan BALI Semakin Beragam
Selain melalui pinjaman internal kepada anak usaha, BALI juga aktif mencari sumber pendanaan dari berbagai instrumen keuangan. Salah satu langkah yang dilakukan adalah memperkuat modal melalui aksi korporasi di pasar saham.
Sebelumnya, perusahaan telah melaksanakan penambahan modal melalui mekanisme private placement. Dalam aksi tersebut, BALI menerbitkan sebanyak 393,46 juta saham baru atau setara 10 persen dari modal ditempatkan dan disetor penuh.
Dana hasil private placement diharapkan mampu mendukung kebutuhan investasi dan ekspansi bisnis perseroan. Selain itu, struktur permodalan perusahaan menjadi lebih kuat untuk menghadapi peluang pertumbuhan ke depan.
Tidak hanya itu, BALI juga memanfaatkan instrumen pembiayaan berbasis syariah. Perseroan diketahui menawarkan Sukuk Ijarah Berkelanjutan I Tahap III Tahun 2025 dengan nilai mencapai Rp1,35 triliun.
Rincian sukuk tersebut terdiri atas:
- Seri A senilai Rp414,85 miliar.
- Jangka waktu 370 hari.
- Seri B senilai Rp939,15 miliar.
- Tenor investasi selama tiga tahun.
Melalui kombinasi pendanaan dari pasar modal, sukuk, dan dukungan internal grup, BALI memiliki fleksibilitas yang lebih besar dalam menjalankan strategi bisnisnya.
Prospek Kinerja Grup Tetap Terjaga
Keputusan BALI salurkan pinjaman Rp100 miliar kepada PIM menunjukkan fokus perusahaan dalam memperkuat fondasi bisnis jangka panjang. Dukungan terhadap anak usaha dinilai penting untuk menjaga pertumbuhan pendapatan dan memperluas kapasitas operasional.
Selain itu, langkah tersebut memperlihatkan komitmen perseroan dalam mengoptimalkan potensi aset yang dimiliki. Dengan dukungan pendanaan yang berkelanjutan, PIM diharapkan mampu meningkatkan kontribusinya terhadap kinerja grup.
Sementara itu, diversifikasi sumber pendanaan melalui saham dan sukuk memberikan ruang yang lebih luas bagi perusahaan untuk membiayai berbagai proyek strategis. Karena itu, BALI dinilai memiliki posisi yang cukup kuat dalam mendukung agenda ekspansi bisnis pada periode mendatang.
Dengan berbagai langkah tersebut, pelaku pasar akan terus mencermati perkembangan kinerja BALI dan anak usahanya. Terutama, bagaimana dana pinjaman terbaru dapat mendorong pertumbuhan operasional serta memperkuat daya saing perusahaan di sektor infrastruktur telekomunikasi nasional.





