Harga Tembaga Naik ke Puncak Dua Pekan, Pasar Cermati Tarif AS

Dwi Prakoso

RuangInvest.com, Jakarta – Harga tembaga naik ke level tertinggi dalam lebih dari dua pekan pada perdagangan Selasa (2/6/2026). Kenaikan ini didorong oleh ketidakpastian kebijakan tarif impor Amerika Serikat (AS) serta kondisi pasokan logam yang semakin ketat di pasar global.

Pergerakan harga tersebut menunjukkan bahwa pelaku pasar masih menaruh perhatian besar terhadap kebijakan perdagangan AS. Selain itu, arus pengiriman logam ke berbagai wilayah dunia juga turut memengaruhi keseimbangan pasokan dan permintaan.

Di sisi lain, perkembangan geopolitik di Timur Tengah kembali menjadi sorotan investor. Upaya perdamaian yang masih berlangsung dinilai belum mampu menghilangkan risiko terhadap pasar energi dan komoditas logam industri.

Harga Tembaga Naik karena Ketidakpastian Tarif AS

Kontrak tembaga tiga bulan di London Metal Exchange (LME) tercatat naik 0,99 persen menjadi USD13.968,50 per ton pada pukul 14.05 WIB. Sebelumnya, harga sempat menyentuh USD13.978 per ton, yang menjadi level tertinggi sejak 14 Mei 2026.

Sementara itu, kontrak tembaga paling aktif di Shanghai Futures Exchange (SHFE) juga menunjukkan penguatan yang signifikan. Harga ditutup naik 1,86 persen ke posisi 106.620 yuan per ton setelah sempat menyentuh 106.720 yuan per ton, tertinggi sejak 15 Mei.

Kenaikan tersebut terjadi setelah Gedung Putih merevisi tarif untuk sejumlah produk impor berbahan logam seperti tembaga, aluminium, dan besi. Pemerintah AS juga memangkas bea masuk terhadap beberapa peralatan industri dan pertanian.

Namun, pasar masih menunggu kejelasan mengenai tarif khusus tembaga yang selama ini menjadi sumber dislokasi perdagangan antarwilayah. Ketidakjelasan itu membuat pelaku pasar memilih mempertahankan posisi mereka sambil menunggu kebijakan lanjutan dari Washington.

Menurut analis ING Economics, ketidakpastian tarif masih berpotensi memberikan dukungan terhadap sentimen pasar logam dalam jangka pendek. Karena itu, harga tembaga tetap memperoleh dorongan positif meskipun belum ada keputusan final dari pemerintah AS.

Pasokan Global Semakin Ketat

Selain faktor tarif, kondisi pasokan global juga menjadi pendorong utama kenaikan harga tembaga naik dalam beberapa pekan terakhir.

Premi harga tembaga COMEX terhadap LME kembali melebar. Situasi ini membuat pengiriman logam ke gudang-gudang di Amerika Serikat masih dianggap menguntungkan secara ekonomi.

Sementara itu, diskon harga tembaga tunai di LME terhadap kontrak tiga bulan terus menyempit. Kondisi tersebut biasanya menjadi sinyal bahwa pasokan jangka pendek mulai terbatas.

Indikasi Ketatnya Pasokan

Beberapa indikator yang diperhatikan pasar antara lain:

  • Premi COMEX terhadap LME yang kembali meningkat.
  • Diskon harga tunai LME yang semakin menyempit.
  • Minat pengiriman logam ke AS yang tetap tinggi.
  • Ketersediaan stok jangka pendek yang mulai berkurang.

Kombinasi faktor-faktor tersebut membuat investor optimistis terhadap prospek harga tembaga dalam waktu dekat. Meskipun begitu, pasar tetap mewaspadai potensi perubahan kebijakan perdagangan yang dapat mengubah arah harga sewaktu-waktu.

Konflik Timur Tengah Tambah Risiko Pasar

Perhatian investor juga tertuju pada perkembangan terbaru di Timur Tengah. Lebanon mengumumkan adanya gencatan senjata parsial antara Hezbollah dan Israel.

Namun, pertempuran masih dilaporkan terjadi di wilayah selatan Lebanon. Karena itu, pelaku pasar menilai risiko geopolitik belum sepenuhnya mereda.

Di sisi lain, ketegangan yang melibatkan AS, Israel, dan Iran juga masih menjadi perhatian. Media pemerintah Iran melaporkan bahwa Teheran menghentikan perundingan damai tidak langsung dengan Washington.

Situasi semakin memanas setelah seorang komandan senior Iran mengancam akan mengganggu lalu lintas pelayaran di Selat Bab el-Mandeb. Jalur tersebut merupakan salah satu rute perdagangan penting dunia yang berpengaruh terhadap distribusi energi global.

Akibatnya, risiko energi tetap tinggi dan memberikan dampak terhadap berbagai komoditas industri, termasuk logam dasar.

Aluminium dan Timah Ikut Menguat

Tidak hanya harga tembaga naik, sejumlah logam industri lainnya juga mencatatkan kenaikan yang cukup kuat.

Harga aluminium di LME naik 1,63 persen menjadi USD3.776,50 per ton. Bahkan, harga sempat mencapai USD3.787,50 per ton, level tertinggi dalam lebih dari empat tahun.

Di SHFE, aluminium menguat 2,10 persen dan ditutup pada posisi 24.825 yuan per ton. Kenaikan ini mencerminkan kekhawatiran pasar terhadap potensi gangguan pasokan dari kawasan Teluk yang menyumbang sekitar 9 persen produksi aluminium global.

Timah juga membukukan reli yang impresif. Harga timah di London naik 3,25 persen, sedangkan kontrak serupa di Shanghai melonjak 5,19 persen.

Untuk logam lainnya di LME, seng naik 1,08 persen, timbal menguat 0,77 persen, dan nikel bertambah 0,54 persen.

Sementara itu, di SHFE, seng naik 1,09 persen, timbal menguat 0,18 persen, dan nikel bertambah 1,14 persen.

Kenaikan yang terjadi pada berbagai logam industri menunjukkan bahwa sentimen pasar komoditas masih cukup positif. Selama ketidakpastian tarif AS dan risiko geopolitik belum terselesaikan, pergerakan harga logam diperkirakan akan tetap menjadi fokus utama investor global dalam beberapa waktu ke depan.

Penulis :

Dwi Prakoso

TOPIK :

Home Trending Explore Discover Menu