RuangInvest.com, New York – Harga Tembaga 2026 kembali menjadi sorotan pasar komoditas global setelah Goldman Sachs menaikkan proyeksi harga logam tersebut untuk akhir tahun 2026. Revisi ini mencerminkan meningkatnya kekhawatiran terhadap ketatnya pasokan global di tengah pertumbuhan produksi tambang yang lebih lambat dari perkiraan.
Goldman Sachs memperkirakan harga tembaga akan mencapai USD13.735 per ton pada akhir 2026. Angka tersebut lebih tinggi dibandingkan proyeksi sebelumnya yang berada di level USD12.465 per ton.
Selain itu, bank investasi asal Amerika Serikat tersebut juga meningkatkan estimasi rata-rata harga tembaga pada 2027 menjadi USD13.800 per ton. Sebelumnya, Goldman memperkirakan harga rata-rata hanya mencapai USD12.150 per ton.
Goldman Sachs Prediksi Defisit Pasokan Tembaga Meningkat
Menurut laporan yang dikutip dari Reuters, revisi proyeksi tersebut didorong oleh perkiraan pasar tembaga global di luar Amerika Serikat yang semakin ketat.
Goldman Sachs kini memperkirakan pasar tembaga di luar AS akan mengalami defisit sekitar 640.000 ton pada 2026. Sementara itu, pada 2027 defisit diperkirakan mencapai 170.000 ton.
Angka tersebut jauh lebih besar dibandingkan estimasi sebelumnya. Karena itu, prospek Harga Tembaga 2026 dinilai semakin kuat dalam jangka menengah hingga panjang.
Pertumbuhan produksi tambang yang lebih rendah menjadi faktor utama di balik revisi tersebut. Pasokan global dinilai tidak mampu mengimbangi peningkatan kebutuhan industri dan aktivitas impor yang terus meningkat.
Di sisi lain, permintaan dari Amerika Serikat diperkirakan terus menyerap pasokan yang tersedia di pasar internasional.
Produksi Tambang Utama Masih Terbatas
Salah satu alasan utama kenaikan proyeksi Harga Tembaga 2026 adalah melemahnya pertumbuhan produksi dari sejumlah tambang besar dunia.
Grasberg dan Kamoa-Kakula Belum Pulih Penuh
Goldman Sachs memperkirakan produksi gabungan dari tambang Grasberg di Indonesia dan Kamoa-Kakula di Republik Demokratik Kongo akan lebih rendah sekitar 200.000 ton dibandingkan perkiraan sebelumnya.
Kedua tambang tersebut merupakan pemasok penting bagi pasar tembaga global. Namun, kapasitas produksinya diperkirakan belum kembali normal sepenuhnya sebelum 2028.
Kondisi tersebut membuat pasokan tembaga global menjadi lebih terbatas. Akibatnya, tekanan kenaikan harga berpotensi bertahan dalam beberapa tahun ke depan.
Selain itu, keterbatasan produksi dari tambang besar lainnya juga dapat mempersempit ruang bagi peningkatan pasokan global.
Lonjakan Impor AS Serap Pasokan Global
Goldman Sachs juga memperkirakan persediaan tembaga di Amerika Serikat meningkat signifikan sepanjang tahun ini.
Stok tembaga di negara tersebut diperkirakan mencapai sekitar 900.000 ton. Sebelumnya, Goldman hanya memperkirakan peningkatan sebesar 550.000 ton.
Kenaikan tersebut terjadi karena lonjakan impor yang masuk ke pasar AS. Akibatnya, sebagian besar pasokan yang tersedia terserap dan mengurangi volume yang dapat diakses pasar lain.
Skenario dasar Goldman mengasumsikan tidak ada penerapan tarif impor tembaga oleh Amerika Serikat pada 2026. Asumsi ini menjadi salah satu dasar utama dalam perhitungan proyeksi harga terbaru.
Namun, perkembangan kebijakan perdagangan tetap menjadi faktor yang perlu diperhatikan oleh pelaku pasar.
Risiko yang Dapat Memengaruhi Harga Tembaga 2026
Meskipun prospek harga masih positif, Goldman Sachs mengingatkan adanya sejumlah risiko yang dapat mengubah arah pasar.
Dalam skenario dasar, harga tembaga diperkirakan bertahan di sekitar USD13.600 per ton dalam beberapa bulan mendatang.
Namun, jika terjadi penutupan Selat Hormuz dalam jangka panjang, harga tembaga berpotensi turun menjadi sekitar USD12.600 per ton pada akhir 2026.
Sebaliknya, penerapan tarif impor tembaga oleh Amerika Serikat dapat mendorong harga melampaui USD14.000 per ton pada paruh kedua 2026.
Sementara itu, keputusan yang secara tegas meniadakan tarif impor diperkirakan akan mengurangi tekanan pasokan. Kondisi tersebut berpotensi membuat harga melemah ke sekitar USD12.800 per ton pada 2027.
Karena itu, kebijakan perdagangan global akan menjadi salah satu faktor penentu arah pasar tembaga dalam beberapa tahun ke depan.
Harga Tembaga Menguat di London Metal Exchange
Sentimen positif terhadap prospek pasokan turut mendorong pergerakan harga di pasar komoditas.
Kontrak acuan tembaga tiga bulan di London Metal Exchange (LME) tercatat naik 0,5 persen pada perdagangan Senin pagi, 1 Juni 2026.
Harga kontrak tersebut mencapai USD13.706 per ton. Angka itu mendekati proyeksi terbaru Goldman Sachs untuk akhir 2026.
Kenaikan ini menunjukkan bahwa pasar mulai memperhitungkan potensi defisit pasokan yang lebih besar dibandingkan perkiraan sebelumnya.
Dengan kombinasi pasokan yang ketat, produksi tambang yang terbatas, serta meningkatnya impor Amerika Serikat, prospek Harga Tembaga 2026 masih cenderung positif. Meskipun begitu, pelaku pasar tetap perlu mencermati perkembangan geopolitik dan kebijakan perdagangan yang dapat memengaruhi keseimbangan pasar global.





