IHSG Mei 2026 Anjlok 11,92 Persen, Terburuk Sejak 2012

Dwi Prakoso

RuangInvest.com, Jakarta – IHSG Mei 2026 mencatat kinerja bulanan yang sangat buruk setelah mengalami penurunan tajam sepanjang bulan. Tekanan jual investor asing, rebalancing indeks global, dan pelemahan nilai tukar rupiah menjadi faktor utama yang membebani pergerakan pasar saham domestik.

Penurunan yang terjadi pada IHSG Mei 2026 bahkan menjadi yang terdalam dalam 14 tahun terakhir. Kondisi tersebut membuat pelaku pasar meningkatkan kewaspadaan terhadap potensi volatilitas yang masih berlanjut pada perdagangan bulan berikutnya.

Data Bursa Efek Indonesia (BEI) menunjukkan bahwa Indeks Harga Saham Gabungan atau IHSG turun 11,92 persen selama Mei 2026. Angka tersebut melampaui koreksi 8,32 persen yang terjadi pada Mei 2012, sehingga menjadi penurunan terbesar dalam periode tersebut.

IHSG Mei 2026 Catat Koreksi Terbesar Sejak 2012

IHSG ditutup pada level 6.127,38 pada perdagangan Jumat, 29 Mei 2026. Posisi tersebut berada di area terendah sejak April 2025 dan mencerminkan tekanan besar yang melanda pasar saham Indonesia selama sebulan terakhir.

Penurunan ini terjadi di tengah derasnya arus keluar modal asing dari pasar saham domestik. Investor global melakukan penyesuaian portofolio seiring perubahan komposisi sejumlah indeks internasional yang menjadi acuan investasi.

Selain itu, kekhawatiran terhadap kondisi ekonomi global turut memengaruhi sentimen pelaku pasar. Investor cenderung mengurangi eksposur pada aset berisiko dan memilih instrumen yang dianggap lebih aman.

Di sisi lain, pelemahan rupiah turut menambah tekanan terhadap pasar keuangan. Kondisi tersebut membuat investor semakin berhati-hati dalam mengambil posisi investasi jangka pendek.

Meskipun begitu, sejumlah analis menilai tekanan yang terjadi masih dipengaruhi faktor teknikal dan sentimen global sehingga perlu dicermati secara bertahap.

Outflow Asing Tekan Saham-Saham Kapitalisasi Besar

Selama Mei 2026, investor asing membukukan jual bersih atau net sell sebesar Rp21,09 triliun di pasar reguler. Aksi jual tersebut terutama menyasar saham-saham berkapitalisasi besar yang selama ini menjadi favorit investor institusi.

Beberapa saham perbankan besar menjadi sasaran utama tekanan jual. Saham BBCA, BBRI, dan BMRI tercatat mengalami arus keluar dana asing yang cukup signifikan.

Menurut sejumlah pelaku pasar, aksi jual tersebut berkaitan dengan penyesuaian bobot atau downweight pada indeks MSCI. Perubahan komposisi indeks membuat sejumlah dana global harus melakukan rebalancing portofolio.

Selain saham perbankan, beberapa emiten besar dari sektor energi dan konglomerasi juga mengalami tekanan yang cukup besar. Akibatnya, pergerakan IHSG semakin terbebani selama bulan Mei.

Sementara itu, investor domestik berupaya menahan laju penurunan. Namun, besarnya volume transaksi asing membuat tekanan jual sulit diimbangi dalam jangka pendek.

Rebalancing MSCI Jadi Pemicu Tekanan Pasar

Menurut Phintraco Sekuritas, efektifnya rebalancing indeks MSCI pada penutupan perdagangan 29 Mei 2026 menjadi salah satu faktor utama yang memicu tekanan pasar.

Sejumlah saham diketahui keluar dari MSCI Global Standard Index. Kondisi tersebut mendorong investor global yang mengikuti indeks untuk melakukan penyesuaian kepemilikan saham.

Daftar saham yang terdampak perubahan MSCI

Beberapa saham yang keluar dari MSCI Global Standard Index meliputi:

  • AMMN
  • BREN
  • TPIA
  • CUAN
  • DSSA

Selain itu, AMRT mengalami penurunan klasifikasi dari MSCI Global Standard Index menjadi MSCI Small Cap Index.

Sementara itu, ANTM juga keluar dari MSCI Small Cap Index bersama sejumlah emiten lain, yaitu:

  • AALI
  • BANK
  • BSDE
  • DSNG
  • SIDO
  • MIDI
  • MIKA
  • MSIN
  • TKIM
  • APIC
  • SSMS
  • TAPG

Perubahan tersebut membuat banyak manajer investasi global melakukan penyesuaian kepemilikan saham sesuai komposisi terbaru indeks MSCI.

Pelemahan Rupiah Tambah Beban IHSG

Tekanan terhadap IHSG Mei 2026 tidak hanya berasal dari rebalancing indeks global. Pelemahan nilai tukar rupiah juga menjadi faktor yang memperburuk sentimen pasar.

Pada pekan terakhir Mei, rupiah sempat menyentuh level Rp17.970 per dolar Amerika Serikat. Angka tersebut menjadi salah satu level terlemah yang pernah terjadi dalam beberapa tahun terakhir.

Pelemahan mata uang domestik dipengaruhi oleh meningkatnya kekhawatiran investor terhadap kondisi fiskal pemerintah. Selain itu, ketidakpastian geopolitik di kawasan Timur Tengah turut memicu pergerakan dana ke aset yang dianggap lebih aman.

Karena itu, pasar saham Indonesia menghadapi tekanan dari berbagai arah secara bersamaan. Kombinasi arus keluar dana asing, perubahan indeks global, dan pelemahan rupiah membuat IHSG mengalami koreksi yang cukup dalam.

Ke depan, investor akan mencermati perkembangan nilai tukar rupiah, kebijakan ekonomi pemerintah, serta arah aliran dana asing. Faktor-faktor tersebut diperkirakan menjadi penentu utama pergerakan IHSG pada bulan-bulan mendatang.

Dengan koreksi mencapai 11,92 persen, IHSG Mei 2026 tercatat sebagai salah satu periode terberat bagi pasar saham Indonesia dalam lebih dari satu dekade terakhir. Pelaku pasar kini berharap stabilisasi sentimen global dan masuknya kembali dana asing dapat membantu pemulihan indeks pada semester kedua tahun ini.

Penulis :

Dwi Prakoso

TOPIK :

Home Trending Explore Discover Menu