RuangInvest.com, Jakarta – Harga ayam pedaging diperkirakan masih bergerak datar sepanjang bulan Suro pada Juni 2026. Kondisi ini terjadi karena konsumsi masyarakat cenderung melambat selama periode tersebut.
Tradisi masyarakat yang menunda berbagai kegiatan perayaan pada bulan Suro menjadi salah satu faktor utama melemahnya permintaan ayam broiler. Akibatnya, harga ayam di tingkat peternak belum menunjukkan kenaikan yang signifikan.
Meski demikian, pelaku industri perunggasan masih melihat peluang perbaikan pada semester kedua tahun ini. Sejumlah indikator menunjukkan prospek sektor perunggasan tetap cukup positif hingga akhir 2026.
Harga Ayam Pedaging Bertahan di Level Rp21.400 per Kilogram
Analis CGS International Sekuritas Indonesia (CGSI), Jason Chandra, dalam riset yang diterbitkan pada 29 Mei 2026 menyampaikan bahwa harga ayam pedaging pada Mei bertahan di level Rp21.400 per kilogram.
Angka tersebut naik tipis sekitar 1 persen dibandingkan bulan sebelumnya. Namun, kenaikan tersebut belum cukup kuat untuk mendorong peningkatan kinerja emiten perunggasan dalam jangka pendek.
Menurut Jason, konsumsi ayam diperkirakan masih melemah selama bulan Suro. Karena itu, harga broiler berpotensi bergerak stabil sepanjang Juni 2026.
Kondisi tersebut dapat memberikan tekanan terhadap kinerja perusahaan perunggasan pada kuartal II-2026. Sementara itu, pemulihan diperkirakan mulai terlihat setelah periode Suro berakhir.
Permintaan DOC Masih Stabil
Selain harga ayam pedaging, harga day-old chick (DOC) juga menunjukkan kondisi yang relatif stabil. Pada Mei 2026, harga DOC tercatat sebesar Rp7.100 per ekor.
Harga tersebut naik sekitar 1 persen dibandingkan bulan sebelumnya. Stabilnya harga DOC mencerminkan permintaan dari peternak pembesaran ayam yang masih cukup baik.
Permintaan yang tetap terjaga menjadi sinyal bahwa aktivitas produksi di sektor peternakan belum mengalami perlambatan yang signifikan. Di sisi lain, peternak masih melihat peluang keuntungan ketika permintaan ayam kembali meningkat.
Faktor yang Mendukung Industri Perunggasan
Beberapa faktor yang dinilai dapat mendukung kinerja sektor perunggasan pada semester II-2026 antara lain:
- Potensi penurunan harga jagung sebagai bahan baku pakan.
- Pemulihan permintaan ayam setelah bulan Suro berakhir.
- Berlanjutnya program Makan Bergizi Gratis (MBG).
- Dukungan pemerintah terhadap stabilitas harga ayam.
- Efisiensi operasional yang dilakukan sejumlah emiten perunggasan.
Selain itu, produksi jagung nasional diperkirakan mulai membaik sejak Juni 2026. Sebelumnya, Badan Pusat Statistik (BPS) memperkirakan produksi jagung mencapai titik terendah pada Mei.
Prospek Harga Ayam Pedaging Semester II-2026
CGSI menilai harga ayam pedaging berpotensi pulih mulai Juli 2026. Perbaikan tersebut didorong oleh meningkatnya konsumsi masyarakat setelah bulan Suro berakhir.
Di sisi lain, musim panen jagung yang diperkirakan berlangsung pada Oktober hingga Desember 2026 berpotensi menekan biaya pakan. Jika harga bahan baku turun, margin keuntungan perusahaan perunggasan dapat meningkat.
Namun, analis juga mengingatkan adanya risiko tambahan biaya impor bungkil kedelai atau soybean meal (SBM). Jika kebijakan tersebut terealisasi, manfaat dari penurunan harga jagung dapat berkurang.
Meskipun begitu, pandangan terhadap sektor perunggasan masih cukup positif. Harga ayam yang relatif tinggi dinilai mampu menjaga profitabilitas pelaku usaha sepanjang tahun.
Rekomendasi Saham Perunggasan Masih Menarik
Secara sektoral, CGSI mempertahankan rekomendasi Overweight untuk sektor perunggasan. Optimisme tersebut didukung oleh keberlanjutan program Makan Bergizi Gratis pada 2026.
Menurut Jason, keterlibatan pemerintah yang semakin besar menunjukkan komitmen menjaga stabilitas harga ayam sekaligus mendukung kebutuhan program pangan nasional.
Untuk pilihan saham, CGSI tetap merekomendasikan PT Charoen Pokphand Indonesia Tbk (CPIN) dengan rating Add dan target harga Rp4.000 per saham.
Saham CPIN dinilai memiliki prospek yang baik karena margin bisnis makanan konsumen mulai membaik pada kuartal I-2026. Selain itu, perusahaan tetap bertahan dalam indeks MSCI sehingga mendapat sentimen positif dari investor.
Sementara itu, PT Japfa Comfeed Indonesia Tbk (JPFA) menjadi pilihan utama CGSI di sektor perunggasan. Perusahaan memperoleh rekomendasi Add dengan target harga Rp3.300 per saham.
CGSI menilai strategi JPFA yang fokus pada pengembangan bisnis makanan konsumen serta efisiensi biaya berpotensi meningkatkan kinerja perusahaan dalam beberapa tahun mendatang.
Dengan berbagai faktor pendukung tersebut, prospek sektor perunggasan masih dinilai menjanjikan. Meskipun harga ayam pedaging diperkirakan bergerak datar selama bulan Suro, pemulihan permintaan pada semester kedua 2026 berpotensi menjadi katalis positif bagi industri dan emiten terkait.





