RuangInvest.com, Jakarta – Capex Telkom Kuartal I 2026 tercatat sebesar Rp4,9 triliun. Angka tersebut lebih rendah dibandingkan periode yang sama tahun sebelumnya yang mencapai Rp5,7 triliun.
Meski mengalami penurunan, alokasi belanja modal perusahaan tetap difokuskan untuk memperkuat infrastruktur bisnis inti. Langkah ini menjadi bagian dari strategi jangka panjang perusahaan dalam menghadapi kebutuhan layanan digital yang terus berkembang.
Selain itu, PT Telkom Indonesia (Persero) Tbk juga terus menjalankan transformasi bisnis melalui berbagai program efisiensi dan penyederhanaan portofolio usaha. Strategi tersebut diharapkan mampu meningkatkan nilai perusahaan sekaligus menjaga pertumbuhan yang berkelanjutan.
Capex Telkom Kuartal I 2026 Fokus ke Infrastruktur Inti
PT Telkom Indonesia (Persero) Tbk mengalokasikan hampir seluruh belanja modalnya untuk mendukung pengembangan infrastruktur bisnis utama. Dari total capex sebesar Rp4,9 triliun pada Januari hingga Maret 2026, sekitar 99 persen digunakan untuk memperkuat berbagai segmen strategis perusahaan.
Segmen yang menjadi prioritas meliputi Business to Consumer (B2C), Business to Business (B2B) Infrastructure, serta bisnis internasional. Sementara itu, sebagian kecil dana dialokasikan untuk pengembangan platform digital yang mendukung ekosistem layanan perusahaan.
Kebijakan tersebut menunjukkan fokus Telkom dalam memperkuat fondasi bisnis inti. Di sisi lain, perusahaan juga terus meningkatkan kualitas jaringan dan layanan untuk memenuhi kebutuhan pelanggan yang semakin tinggi.
Pengembangan infrastruktur dinilai menjadi salah satu faktor penting dalam menjaga daya saing industri telekomunikasi. Karena itu, investasi tetap dilakukan secara selektif dan terukur meskipun nilai capex mengalami penyesuaian.
Transformasi TLKM 30 Dorong Efisiensi Operasional
Selain memperkuat infrastruktur, Telkom juga melanjutkan program transformasi perusahaan melalui strategi TLKM 30. Program ini mencakup berbagai inisiatif efisiensi operasional dan penataan portofolio bisnis.
Perseroan menjalankan proses streamlining atau penyederhanaan bisnis melalui berbagai langkah strategis, antara lain:
- Divestasi unit usaha yang tidak termasuk bisnis inti.
- Penggabungan atau merger entitas tertentu.
- Penataan struktur HoldCo-OpCo.
- Likuidasi perusahaan non-core yang dinilai kurang memberikan nilai tambah.
- Optimalisasi pengelolaan aset dan sumber daya perusahaan.
Salah satu proses yang saat ini masih berjalan adalah divestasi AdMedika Group. Manajemen menargetkan proses tersebut dapat diselesaikan pada akhir kuartal II-2026.
Direktur Utama Telkom, Dian Siswarini, menegaskan bahwa perusahaan akan semakin agresif dalam menjalankan strategi transformasi pada tahun ini.
Streamlining Jadi Bagian Disiplin Operasional
Menurut manajemen, program streamlining bukan sekadar efisiensi jangka pendek. Langkah tersebut merupakan bagian dari disiplin operasional yang bertujuan meningkatkan produktivitas dan menciptakan nilai optimal bagi pemegang saham.
Melalui transformasi yang berkelanjutan, Telkom berharap dapat membangun fondasi bisnis yang lebih kuat di tengah perubahan industri digital yang berlangsung cepat.
Pendapatan Telkom Tumbuh pada Awal 2026
Di tengah proses transformasi, kinerja operasional Telkom masih menunjukkan pertumbuhan positif. Pada kuartal I-2026, perusahaan membukukan pendapatan konsolidasi sebesar Rp37,2 triliun.
Pendapatan tersebut meningkat 1,5 persen dibandingkan periode yang sama tahun sebelumnya. Sementara itu, EBITDA tercatat mencapai Rp18 triliun dengan margin sebesar 48,13 persen.
Pertumbuhan tersebut menunjukkan bahwa bisnis inti perusahaan masih mampu menghasilkan kinerja yang stabil. Selain itu, kontribusi dari berbagai layanan digital juga terus mendukung pertumbuhan pendapatan perusahaan.
Namun, di sisi laba bersih, Telkom masih menghadapi tekanan yang berasal dari proses transformasi yang sedang berlangsung.
Laba Bersih Tertekan, Fundamental Tetap Terjaga
Telkom membukukan laba bersih sebesar Rp4,3 triliun pada kuartal I-2026 dengan margin 11,7 persen. Adapun laba bersih yang telah dinormalisasi mencapai Rp5,1 triliun atau setara margin 13,8 persen.
Penurunan laba terutama dipengaruhi oleh dampak lanjutan percepatan depresiasi aset serta normalisasi bisnis selama masa transformasi perusahaan. Meskipun begitu, tekanan tersebut bersifat transisional dan tidak berdampak langsung terhadap arus kas perusahaan.
Sementara itu, fundamental bisnis Telkom masih berada dalam kondisi yang sehat. Hal tersebut terlihat dari arus kas operasional yang tumbuh 3,1 persen menjadi Rp17,3 triliun.
Peningkatan arus kas didorong oleh implementasi program pengendalian pengeluaran secara menyeluruh. Selain itu, disiplin dalam proses penagihan juga memberikan kontribusi positif terhadap perbaikan kinerja kas perusahaan.
Ke depan, Capex Telkom Kuartal I 2026 dan strategi transformasi TLKM 30 akan menjadi faktor penting dalam menjaga pertumbuhan perusahaan. Dengan fokus pada penguatan infrastruktur, efisiensi operasional, dan optimalisasi portofolio bisnis, Telkom berupaya mempertahankan posisinya sebagai salah satu pemain utama di industri telekomunikasi nasional sekaligus memperkuat daya saing di era digital.





